Dongeng Anak Sangkuriang, Asal Mula Gunung Tangkuban Perahu

Posted on

Dongeng anak Sangkuriang menjadi salah satu cerita yang sangat terkenal berasal dari Jawa Barat. Legenda ini menceritakan cikal bakal gunung Tangkuban Perahu di mana letaknya ada di sebelah utara kota Bandung.

Kisah Legenda Dongeng Anak Sangkuriang

Pada awalnya cerita ini dari mulut ke mulut sejak ratusan tahun lalu dan masih dikenal sampai sekarang. Kisahnya sangat menarik membuatnya tidak hanya terkenal di Jawa Barat namun seluruh Indonesia.

Karena terkenalnya kisah Sangkuriang ini membuat ceritanya banyak diangkat menjadi berbagai bentuk. Seperti dibuat dalam bentuk buku, drama bahkan menjadi film kartun yang disukai anak-anak.

Dongeng anak Sangkuriang ini sangat mudah dipahami karena kisahnya jelas dan tidak berbelit-belit. Mari simak kisah perjalanan awal mula sampai akhirnya muncullah gunung Tangkuban Perahu yang sangat terkenal di Jawa Barat.

Legenda Tangkuban Perahu memiliki kisah yang sangat panjang namun selalu menarik untuk dibaca maupun diceritakan. Kisahnya tidak akan pernah terlupakan oleh perkembangan jaman untuk terus diceritakan ke antar generasi.

Awal Mula Dongeng Anak Sangkuriang

Kisah awal cerita anak Sangkuriang bermula ketika ada seorang raja pergi berburu ke hutan. Raja tersebut bernama Sungging Perbangkara memang sangat menyukai berburu di hutan untuk melepaskan kepenatan tugas kerajaan.

Karena merasa ingin buang air kecil maka sang raja mencari semak-semak untuk bisa buang air kecil di sana. Namun ketika sedang buang air kecil tidak sengaja tertampung dalam daun caring.

Daun caring atau sering juga disebut daun keladi hutan bentuknya mirip seperti daun talas. Karena merasa sangat haus air seni yang tertampung ternyata tidak sengaja diminum oleh babi hutan betina.

Babi hutan betina tersebut adalah pertapa kemudian berubah menjadi manusia bernama Wayung. Karena meminum air seni sang raja membuat Wayung sang babi hutan menjadi hamil dan akhirnya melahirkan.

Bayi yang dilahirkan oleh Wayung berjenis kelamin perempuan memiliki paras sangat cantik. Kemudian bayi tersebut diberi nama Dayang Sumbi yang merupakan keturunan dari sang raja.

Dari kisah awal dongeng anak Sangkuriang ini menceritakan awal kelahiran Dayang Sumbi. Lahir dari keturunan raja dan pertapa yang menjelma menjadi babi hutan namun memiliki kecantikan luar biasa.

Kecantikan Dayang Sumbi Semakin Mempesona

Dari kisah awal kelahiran Dayang Sumbi dapat dipahami siapa ayah dan ibunya sampai akhirnya lahirlah dia ke muka bumi. Memiliki kecantikan yang sangat mempesona ternyata semakin terlihat ketika beranjak dewasa.

Dalam dongeng anak Sangkuriang dikisahkan Dayang Sumbi menjadi gadis cantik jelita. Memiliki mata lebar, rambut hitam panjang terurai, kulit bersih, bibir merah dan memiliki peragai yang sangat lemah lembut.

Karena kecantikannya inilah membuatnya sangat terkenal bahkan di kalangan raja-raja yang tertarik untuk menjadikannya sebagai istri. Banyak kalangan bangsawan kelas atas yang sangat menyukainya dan rela memberikan hartanya.

Bahkan banyak raja berusaha menggunakan berbagai cara agar bisa mempersunting Dayang Sumbi menjadi istri. Termasuk rela berperang dan siapa yang berhasil menjadi pemenangnya maka bisa memperistri Dayang Sumbi.

“Maaf tuan-tuan hamba belum berminat menjadi seorang istri, hamba masih ingin menikmati masa ini.” jawab Dayang Sumbi setiap kali dilamar. Masih merasa sangat muda dan ingin menikmati hidupnya membuatnya tidak tertarik menjadi istri.

Meskipun dengan menjadi istri raja atau para bangsawan membuat kehidupannya menjadi sangat terjamin. Selain mendapatkan jaminan kekayaan dan juga kehormatan karena menjadi istri seorang raja.

Dalam dongeng anak Sangkuriang diceritakan akhirnya Dayang Sumbi memilih untuk pergi mengasingkan diri. Memilih hidup sendiri di hutan membuatnya menjadi tenang dan merasa bahagia karena tidak lagi mendapatkan gangguan.

Selama di hutan mengasingkan diri ditemani oleh anjing kesayangannya bernama Tumang. Tumang adalah anjing yang sangat setia dan membuatnya tidak kesepian meskipun hidup menyendiri di hutan.

Kisah Pernikahan Dayang Sumbi

Kisah dongeng anak Sangkuriang menceritakan perjalanan Dayang Sumbi yang akhirnya memutuskan menikah. Telah menolak banyak raja dan bangsawan untuk menyendiri di hutan, lantas siapakah suami dari Dayang Sumbi ini?

Selama di hutan Dayang Sumbi memiliki kebiasaan menenun kain dan menjadi aktivitas sehari-hari di sana. Pada suatu hari tanpa sengaja gulungan benang yang dipakai menenun ternyata jatuh cukup jauh.

Karena sedang merasa malas untuk mengambil gulungan yang jatuh tersebut membuatnya memiliki ide. Kemudian terlontar secara tidak sengaja dari lisannya,

“Siapa saja yang mengambilkan gulungan benangku, jika perempuan mau aku jadikan saudara dan jika laki-laki dijadikan suami.”

Tahukah Anda dari dongeng anak Sangkuriang yang ternyata mengambilkan adalah si Tumang. Seperti yang diketahui Tumang adalah seekor anjing peliharaannya dan tidak ada pilihan lain untuk tidak menepati janji.

Karena sudah berjanji akhirnya Dayang Sumbi menikah juga dengan Tumang sang anjing tersebut. Ternyata Tumang bukan anjing biasa melainkan titisan dewa yang memang sengaja menjelma menjadi anjing.

Pernikahan Dayang Sumbi dan Tumang yang merupakan titisan dewa menjadi awal kisah cerita anak Sangkuriang. Karena dari pernikahan mereka lahirlah anak laki-laki yang kemudian diberi nama Sangkuriang.

Kisah Lahirnya Sangkuriang

Dongeng anak Sangkuriang mengisahkan asal usul kelahirannya dari perempuan cantik jelita dan laki-laki titisan dewa. Sangkuriang lahir dan disambut dengan penuh sukacita oleh sang ibu yaitu Dayang Sumbi.

Tumbuh di hutan membuat Sangkuriang menjadi anak laki-laki berparas ganteng, gagah dan juga tangguh. Dia memiliki kebiasaan berburu di dalam hutan hampir setiap harinya dan membuatnya sangat akrab dengan hutan.

Selama berburu biasanya Sangkuriang ditemani dengan anjing kesayangan ibunya yaitu Tumang. Meskipun sering berburu dengan Tumang dan hidup bersama ibunya, dia tidak mengetahui di mana ayahnya berada.

Ibunya memang sengaja menyembunyikan fakta jika Tumang adalah ayahnya dan membiarkan Sangkuriang tidak mengetahuinya. Hal ini tidak menjadi masalah sampai bertahun-tahun mereka hidup bertiga dengan damai di hutan.

Dongeng anak Sangkuriang menceritakan jika Sangkuriang di didik dengan penuh kasih sayang oleh ibunya. Dia menjadi laki-laki yang berani sebagai pelindung ibunya karena hidup di hutan.

Tumang, Ayah Sangkuriang Dibunuh

Dongeng anak Sangkuriang sangat panjang sampai akhirnya Tumang yang merupakan ayah Sangkuriang dibunuh. Pembunuhan ini terjadi pada suatu hari Sangkuriang mengajak Tumang berburu bersama di hutan seperti biasanya.

Pada saat berburu muncullah babi hutan betina muncul dihadapan mereka dan tidak lain adalah ibunya Dayang Sumbi. Karena Tumang mengetahui siapa babi hutan tersebut maka tidak mau menuruti perintah Sangkuriang.

Karena merasa tidak mau menuruti perintahnya membuat Sangkuriang tidak mendapatkan buruan dan akhirnya marah. Sebagai gantinya Tumang dibunuh kemudian diambil hatinya dan dibawa pulang ke rumah ibunya.

Setiap kali mendapatkan hasil buruan akan selalu dimasak oleh Dayang Sumbi kemudian dijadikan menu makanan. Begitupun dengan hati Tumang yang diberikan ibunya untuk dimasak dan disantap bersama.

Pada awalnya Sangkuriang tidak mengatakan kalau hati yang dimasak adalah hati Tumang sang anjing. Setelah menyadari Tumang tidak ada bersama mereka maka Dayang Sumbi bertanya di mana keberadaannya.

Akhirnya Sangkuriang menceritakan jika hati yang dimasak adalah milik Tumang karena dibunuh. Mengetahui fakta tersebut membuat kemarahan ibunya menjadi memuncak dan melampiaskannya dengan memukul Sangkuriang sampai terluka.

Dari kisah dongeng anak Sangkuriang diceritakan kalau saat itu juga Sangkuriang diusir oleh ibunya. Merasa kecewa dengan kemarahan ibunya yang memang tidak diketahui kenapa sebegitu marahnya.

Membuat Sangkuriang sangat kecewa dan akhirnya memutuskan pergi mengembara meninggalkan ibunya. Setelah kejadian itu membuat Dayang Sumbi harus kehilangan anaknya dan sangat menyesal atas apa yang sudah dilakukan.

Sangkuriang pergi tanpa kabar dan dalam waktu lama tidak pernah kembali ke rumah ibunya. Hal ini membuat Dayang Sumbi sangat sedih karena kehilangan anjing kesayangan serta anaknya dalam waktu bersamaan.

Karena sangat menyesal dia berdoa kepada dewa berhadap mendapatkan petunjuk tentang putranya. Berharap juga Sangkuriang lekas pulang dan hidup bersama ibunya dengan bahagia namun sayangnya dia tidak pernah kembali.

Pertemuan Kembali Sangkuriang dengan Dayang Sumbi

Dongeng anak Sangkuriang ini sangat menarik karena setelah sekian lama Sangkuriang tidak pernah kembali. Waktu berlalu sangat cepat membuat Sangkuriang tumbuh dewasa menjadi sosok laki-laki yang tampan dan gagah.

Ketampanannya memang didapatkan dari ibunya yang sangat cantik jelita meskipun sudah menua. Terus berkelana dari satu daerah ke daerah lain tanpa disadarinya dia kembali ke hutan di mana ibunya berada.

Pada saat berada di hutan tersebut, dia bertemu dengan seorang putri yang hidup di hutan sendiri. Dia terpesona kecantikannya dan jatuh hati padanya yang ternyata adalah ibunya sendiri.

Dayang Sumbi ternyata memiliki kesaktian cukup tinggi membuatnya mampu awet muda seperti seorang gadis. Dari doa-doa dipanjatkan serta kebiasaan bertapa di hutan membuat dia masih sangat terlihat cantik seperti gadis.

Hal inilah yang membuatnya tidak bisa menua dan tetap cantik meskipun usianya sudah semakin tua. Hingga pada suatu waktu akhirnya Sangkuriang bisa bertemu kembali ibunya di hutan tersebut.

Namun sayangnya pada dongeng anak Sangkuriang ini dia tidak mengenali jika itu adalah ibunya. Bahkan tanpa sengaja merasa terpesona kemudian jatuh hati dan ingin memiliki perempuan cantik tersebut.

Begitupun dengan Dayang Sumbi yang juga tidak mengenali kalau laki-laki muda tersebut adalah putranya. Banyak perubahan terjadi pada Sangkuriang sehingga tidak lagi dikenali serta sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

Karena keduanya sama-sama tidak mengetahui kalau laki-laki gagah adalah anak laki-laki yang lama pergi. Serta tidak menyadari kalau hubungan keduanya adalah ibu dengan anak maka mereka menjalin kasih.

“Maukah kau menjadi kekasihku?” tanya Sangkuriang kepada Dayang Sumbi. Karena merasa jatuh hati pada laki-laki tersebut membuat Dayang Sumbi langsung menerimanya, “Dengan senang hati tuan.”

Membuat mereka terlarut dalam perasaan masing-masing hingga terjalin hubungan cinta yang terlarang. Namun keduanya masih belum menyadari jika Dayang Sumbi adalah ibu kandung dari Sangkuriang.

Dalam dongeng anak Sangkuriang ini dikisahkan jalinan kasih antara Dayang Sumbi dan Sangkuriang terus berjalan. Mereka hidup bahagia sebagai pasangan kekasih di hutan tanpa menyadari hubungan yang sebenarnya.

Dayang Sumbi Mengetahui Sangkuriang Adalah Anaknya

Hingga pada suatu waktu ketika sedang duduk santai berdua, Dayang Sumbi membelai kepala Sangkuriang. Tanpa sengaja menemukan bekas luka pada kepala dan teringat kejadian beberapa tahun lalu.

Mengetahui luka tersebut membuat Dayang Sumbi meminta Sangkuriang menceritakan kenapa bisa ada luka di kepala. Betapa kagetnya dia mengetahui fakta kalau laki-laki tersebut adalah anak laki-lakinya yang sudah lama pergi.

Padahal saat itu Sangkuriang sudah melamar Dayang Sumbi dan keduanya sudah setuju untuk segera menikah. Mengetahui laki-laki itu anak kandungnya membuat Dayang Sumbi bingung mencari cara agar tidak ada pernikahan.

Dayang Sumbi tidak bisa menikah dengan anak kandungnya dan berusaha keras membatalkan pernikahan tersebut. Akhirnya dibuatlah beberapa persyaratan yang harus dipenuhi jika ingin menjadi suami Dayang Sumbi.

Ada beberapa syarat yaitu Sangkuriang dalam waktu satu malam harus bisa membuat danau, perahu. Serta harus membendung sungai Citarum dan tidak ada tambahan waktu hanya satu malam saja.

Memiliki kemampuan yang cukup hebat karena sudah berkelana dan banyak berguru dengan orang sakti. Membuat Sangkuriang sanggup memenuhi semua persyaratan yang diajukan Dayang Sumbi kepadanya dalam waktu satu malam.

Kesaktian Sangkuriang dalam dongeng anak Sangkuriang memang tidak perlu diragukan lagi. Berkat kemampuannya itu semua pekerjaan hampir diselesaikan sebelum pagi datang dan hal ini membuat Dayang Sumbi bingung.

Karena jika Sangkuriang berhasil menyelesaikan semua syarat tersebut maka Dayang Sumbi menjadi istrinya. Padahal hal ini sangat dihindari oleh Dayang Sumbi dan berusaha keras menggagalkan semua rencana tersebut.

Agar Sangkuriang tidak berhasil, Dayang Sumbi meminta petunjuk pada Dewa apa yang harus dilakukan. Dewa memerintahkan agar Dayang Sumbi mengibaskan selendang dan secara ajaib matahari datang dari ufuk timur.

Datangnya matahari dalam dongeng anak Sangkuriang menjadi tanda kalau pagi sudah datang dan artinya Sangkuriang gagal memenuhi persyaratan. Karena apa yang dilakukannya belum selesai namun waktu habis karena sudah pagi.

Muncullah Sebutan Tangkuban Perahu

Mengetahui pagi sudah tiba membuat Sangkuriang merasa marah karena gagal dan akhirnya dia menendang perahu setengah jadi. Kekuatan yang dimiliki dalam dongeng anak Sangkuriang membuat perahu tersebut terguling.

Dalam keadaan tertelungkup di mana nampak seperti sebuah gunung perahu hingga akhirnya muncul sebutan Tangkuban Perahu. Gunung Tangkuban Perahu memang bentuknya mirip perahu dan berbeda dengan bentuk gunung pada umumnya.

Kisah ini terus diceritakan dari waktu ke waktu membuat Gunung Tangkuban Perahu sangat terkenal. Tidak hanya tentang keindahannya saja namun juga cerita legenda di balik munculnya gunung ini.

Banyak kisah moral yang bisa diambil dari legenda ini seperti pentingnya bersikap jujur pada anak. Andaikan dari awal diketahui Tumang adalah ayah Sangkuriang pasti tidak akan pernah dibunuh.

Dayang Sumbi adalah wanita cantik yang selalu menepati setiap ucapan seperti ketika benang tenunnya jatuh. Kemudian Tumang mengambilkan maka dialah yang dijadikan suami demi menepati janji tersebut.

Ada pesan moral yang sangat menarik yaitu jangan menjadi orang malas seperti Dayang Sumbi. Karena kemalasannya mengambil sebuah benang membuatnya harus menikah dengan Tumang sang anjing titisan dewa.

Jangan suka asal berbicara yang membuat Anda harus menanggung ucapan tersebut demi menepati janji. Sebaiknya berhati-hati ketika berucap apapun itu agar bisa menjalani hidup tanpa adanya beban ucapan.

Pesan moral lainnya tidak boleh ada pernikahan antara ibu dan anak kandungnya meskipun tidak mengetahuinya. Hal inilah yang berusaha dibatalkan oleh Dayang Sumbi ketika Sangkuriang akan menikahinya.

Caranya dengan mengajukan beberapa syarat yang sangat sulit untuk dipenuhi dalam waktu 1 malam. Ketika Sangkuriang hampir berhasil Dayang Sumbi mencoba melakukan pencegahan dengan mengibaskan selendangnya agar pagi datang.

Namun cara yang dilakukan Dayang Sumbi merupakan cara curang dan pesan moral ini sebaiknya diperhatikan. Ketika sudah membuat persyaratan jangan melakukan kecurangan agar membuat orang lain gagal.

Kisah Sangkuriang ini merupakan warisan budaya Indonesia dalam bentuk cerita dan bisa terus dikisahkan ke anak cucu. Banyak juga pesan moral yang didapatkan dari dongeng anak Sangkuriang untuk diambil hikmahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.